DI SIMPANG JALAN PERADABAN


Tanggal Unggah : 08/09/2021 Diunggah Oleh : ADMIN 162


DI SIMPANG JALAN PERADABAN
Capek ya bu?, istirahatlah sebentar, perjalananmu sangat jauh, sini aku basuh dulu peluhmu, bersihkan luka di kakimu,
kita duduk disini, di simpang jalan peradaban
Tapi mengapa kau menangis?, wajahmu ayu, tapi layu dirundung muram 
mata indahmu ragu menatap jalan di depan
maaf ibu, mungkin pestamu yg baru usai, tidak semeriah biasanya,
atau perihnya luka kaki ibu tertusuk batu cadas dan duri ?
perjalananmu sangat berat ibu, 
lalui padang perbudakan,
lembah kekejaman 
dan belukar gelap keterbelakangan,
ibu lihat sepanjang jalan yang kita lalui ?
banyak yg bersorak sorai mengelukan kita,
Bung Karno, Bung Hatta, Bung Tomo, mereka mengepalkan tangan ke udara
H. Agussalim dan Buya Hamka tersenyum teduh penuh wibawa,
ada Diponegoro, gagah perkasa di atas kuda, disampingnya Pattimura, Sultan Hasanuddin dan Sisingamangaraja,
seorang perempuan bersenjata rencong, duduk menahan sakit, tapi sorot matanya garang, itu Cut Nyak Dien.
lalu perempuan yang bersanggul dan laki laki tua berpeci, keduanya mendekap buku,
itu Kartini dan Ki Hajar Dewantara ibu ....,
banyak sekali orang berdiri sepanjang jalan memegang panji merah putih
wajah wajah yang sangat aku kenal, sebab mereka lah kita bisa sampai di titik ini
mereka menyemangati kita
mengawasi perjalanan kita,
Tapi ibu, 
dadaku sesak....
melihat Panglima Sudirman, meski diusung tandu, suaranya tetap menggelegar
sayup - sayup melolong
teriakan kesakitan
pekerja pekerja kurus sepanjang jalan raya Anyer - Panarukan,
derak roda sepur di atas rel tua, bercampur tangisan martir - martir Romusha dan Rodi,
jeritan menggema dari sumur tua Lubang Buaya, begitu pilu menyayat hati,
suara - suara itu seperti jutaan lebah mengiringi perjalanan kita
bahkan Yos Sudarso dari kedalaman laut Aru dan darah puputan I Gusti Ngurah Rai, seperti menyampaikan pesan yang jelas kepadaku,
untuk menjaga ibu sampai tetes darah terakhir.
.........................
Lalu di sini, di simpang jalan peradaban ini, 
akan kemanakah kita lanjutkan langkah ?,
jangan ragu ibu,
ribuan mil telah dilalui, kenapa tidak untuk ribuan mil lagi?,
kompas warisan menjadi petunjuk jalan kita
kemilau lampu - lampu itu tak akan membuat kita gamang dan tersesat
Kami, anak - anakmu,
akan setia menjaga dan membentangkan panji.
(WD. Ujung Agustus 2021)


Penulis : Wahyuddin, S. Pd

Hallo Sobat Smansa !!

Telah hadir Layanan Konsultasi (Chatting Only) melalui WhatsApp atau kirim email ke sma.1.alas@gmail.com